Arsip

Si Miskin Yang Mulia…Carilah & Bantulah Dia…


Si Miskin Yang Mulia…Carilah & Bantulah Dia…

Orang yang mulia adalah orang yang berusaha menjaga harga dirinya, ia tetap menjaga rasa malunya, meskipun menghadapi kesulitan hidup, akan tetapi ia tetap berusaha menyembunyikan kesulitan yang ia hadapi…ia bukanlah orang yang suka berkeluh kesah kepada orang lain…apalagi meminta-minta kepada orang lain…, inilah sifat para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu kaum muhajirin radhiallahu ‘anhum. Allah berfirman

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الأرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui” (QS Al-Baqoroh : 273)

by firanda.com

Iklan

ADAB MENUNTUT ILMU‪


Oleh : Majid bin Su’ud Alu ‘Usyin‬
‪Penerjemah Fuad Hamzah, Lc‬
‪‬
    Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim. Dan dalam menuntut ilmu itu ada beberapa ada yang harus diperhatikan, berikut di antaranya.‪‬
‪BEBERAPA ADAB MENUNTUT ILMU‬
‪1.
Mengikhlaskan niat karena Allah ta’âlâ.‬
‪2.
Berdoa kepada Allah ta’âlâ supaya mendapatkan taufiq dalam menuntut ilmu.‬
‪3.
Bersemangat (antusias) untuk melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu.‬
‪4.
Berusaha semaksimal mungkin untuk menghadiri kajian-kajian ilmu.‬
‪5.
Apabila ada seseorang yang datang belakangan di tempat kajian hendaknya tidak mengucapkan salam apabila dapat memotong pelajaran yang berjalan, kecuali kalau tidak mengganggu maka mengucapkan salam itu sunnah. (Pendapat Syaikh al-Utsaimin dalam
Fatawa Islamiyyah:, jilid 1, hlm. 170)

‪6.
Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu sebab hilangnya barakah ilmu. Allah ta’âlâ mencela orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya dalam firman-Nya:‬

Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. ash-Shaf: 2-3)‬
‪Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan: “Tidaklah aku menulis satu hadits pun dari Nabi n, kecuali telah aku amalkan, sampai ada hadits bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berbekam kemudian memberikan Abu Thaybah satu dinar,
[1] maka aku pun memberi tukang bekam satu dinar tatkala aku dibekam.” (
al-Adab asy-Syar’iyyah, jilid 2, hlm. 14)‬
‪7.
Merasa sedih tatkala ada masyayikh yang sezaman tapi tidak sempat bertemu, serta mencontoh adab dan akhlak mereka.‬
    al-Khalal meriwayatkan akhlak Imam Ahmad rahimahullahu dari Ibrahim, ia berkata: “Apabila mereka mendatangi seseorang yang akan mereka ambil ilmunya, mereka memperhatikan shalat, kehormatan dan gerak-gerik serta tingkah lakunya, kemudian barulah mereka mengambil ilmu darinya.‪Dan dari al-A’masy rahimahullahu berkata, “Orang dahulu belajar kepada ahli fikih tentang semua hal termasuk pakaian dan sandalnya. (
al-Adab asy-Syar’iyyah, jilid 2, hlm. 145)‬
‪8.
Sopan santun dalam menuntut ilmu.‬
‪9.
Kontinyu (konsisten) untuk hadir dan tidak malas.‬
‪10.
Tidak berputus asa dan mencela diri (merendahkan diri). Hendaknya ingat firman Allah ta’âlâ:‬

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. an-Na
hl: 78)‬
‪Terlebih apabila kesulitan dalam mempelajari sesuatu.‬
‪11.
Membaca kitab-kitab yang berkaitan dengan thalabul ilmi dan mempelajari metode yang benar dalam menuntut ilmu, serta berusaha mengetahui kekurangan dan kesalahan yang ada pada dirinya.‬
‪12.
Antusias untuk hadir lebih awal dan mempergunakan waktu dengan baik.‬
‪13.
Berusaha melengkapi pelajaran yang terlewatkan.‬
‪14.
Mencatat faedah pada halaman depan atau buku catatan.‬
‪15.
Berusaha keras untuk mengulang-ulang faedah yang telah didapatkan.‬
‪16.
Tatkala membeli buku hendaknya diperhatikan terlebih dahulu.‬
‪17.
Tidak melemparkan kitab ke tanah.‬
‪Ada seseorang yang melakukan itu di hadapan Imam Ahmad rahimahullahu dan beliau marah seraya mengatakan, “Beginikah kamu memperlakukan ucapan orang-orang baik?” (
al-Adab asy-Syar’iyyah, jilid 2, hlm. 389)‬
‪18.
Tidak memotong perkataan guru sampai beliau menyelesaikannya.‬
‪Imam al-Bukhari berkata: Bab barangsiapa yang ditanya tentang ilmu, sedangkan dia sibuk berbicara, maka selesaikan dulu permbicaraannya. Kemudian beliau membawakan hadits:‬
أَنَّ أَعْرَابِياًّ قَالَ وَالنَّبِيُّ يَخْطُبُ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى الرَّسُوْلُ فِي حَدِيْثِهِ وَأَعْرَضَ عَنْهُ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيْثَهُ قَالَ: أَيْنَ أَرَاهُ السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ؟
‪Ada seorang Arab Badui bertanya kapan hari kiamat tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melanjutkan khutbahnya dan berpaling dari orang itu, tatkala Nabi menyelesaikan khutbahnya, kemudian bertanya:
“Dimana orang yang tadi bertanya tentang hari kiamat.” (
al-Fath, jilid 1, hlm. 171)‬
‪19.
Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata: “Kapan saja ada yang tidak dapat dipahami dari perkataan guru oleh muridnya, hendaklah dia bersabar sampai sang guru menyelesaikan ucapannya, baru kemudian dia meminta penjelasan gurunya dengan penuh adab dan kelembutan dan tidak memotong di tengah-tengah pembicaraannya.” (al-Adab asy-Syar’iyyah, jilid 2, hlm. 163)‬
‪20.
Sopan tatkala mengajukan pertanyaan kepada guru, tidak menanyakan sesuatu yang dibuat-buat atau berlebihan atau menanyakan sesuatu yang sudah tahu jawabannya dengan tujuan supaya gurunya tidak mampu menjawab dan menunjukkan bahwa dia tahu jawabannya, atau menanyakan sesuatu yang belum terjadi, dimana salafush shalih mencela hal seperti ini apabila pertanyaan itu dibuat-buat. (Tahdzib at-Tahdzib, jilid 8, hlm. 274, as-Siyar, jilid 1, hlm. 398)‬
‪21.
Membaca biografi para ulama.‬
‪22.
Membaca topik dan tema yang berbeda sebelum tiba waktunya. Seperti Ramadhan dan hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa, sepuluh awal dzulhijah dan kurban.‬
‪23.
Antusias untuk membeli kitab-kitab yang khusus membahas permasalahan-permasalahan fikih. Seperti kitab yang berkaitan dengan sunnah-sunnah Rawatib atau qiyamullail, dll.‬
‪24.
Memprioritaskan hal-hal yang utama dalam menuntut ilmu.‬
‪25.
Memulai dengan yang lebih penting.‬
‪Sebagaimana petunjuk Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memulai yang lebih penting yang beliau lakukan dengan tujuan itu. Oleh karena itu tatkala ‘Utban bin Malik memanggil Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seraya berkata kepada beliau, “Aku ingin Anda datang untuk shalat di rumahku, supaya aku jadikan tempat itu menjadi mushalla”, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar beserta beberapa orang sahabatnya.‬
‪Tatkala sampai di rumah ‘Utban, mereka meminta izin untuk masuk, kemudian mereka masuk, dan ‘Utban telah membuatkan makanan untuk mereka, maka Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak makan terlebih dahulu, bahkan berkata:
“Dimana tempat yang ingin kamu jadikan mushalla itu?” kemudian diperlihatkan kepada beliau, kemudian beliau shalat, setelah itu baru duduk untuk menyantap hidangan. (HR. al-Bukhari, no. 425 & 667, Muslim, no. 263 dan disebutkan juga oleh Syaikh al-Utsaimin rahimahullahu dalam
Syarh Riyadhu ash-Shalihin, jilid 3, hlm. 98)‬
‪26.
Tidak sok pintar.‬
‪27.
Memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala menyebut-Nya.‬
‪28.
Bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala menyebutnya.‬
‪29.
Mengucapkan radhiyallahu ‘anhum (رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ) kepada para sahabat tatkala menyebut mereka.‬
‪30.
Mengucapkan rahimahullah (رَحِمَهُ اللَّهُ) kepada para ulama tatkala menyebut mereka.‬
‪31.
Tidak menyandarkan sesuatu kepada maraji’ apapun kecuali apabila kita membaca berita itu darinya.‬
‪32.
Tidak menyandarkan hadits kepada selain Imam al-Bukhari dan Imam Muslim apabila hadits itu ada pada keduanya atau salah satu dari keduanya.‬
‪33.
Berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam menyalin.‬
‪34.
Menyandarkan faedah kepada yang empunya.‬
‪35.
Tidak meremehkan faedah walaupun sedikit.‬
‪36.
Tidak menyembunyikan faedah.‬
‪37.
Tidak mempergunakan dalil hadits dhaif atau maudhu’.‬
‪38.
Tidak mendhaifkan hadits, kecuali setelah meneliti an menanyakan kepada ahlinya.‬
‪39.
Tidak mengacuhkan permasalahan-permasalahan yang ditanyakan kepada dirinya, karena itu dapat mendorong anda untuk meneliti dan menggali lebih dalam masalah itu.‬
‪40.
Membawa buku catatan kecil untuk mencatat faedah-faedah dan berbagai macam permasalahan.‬
‪41.
Tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang mubah.‬
‪42.
Tidak menyibukkan diri dengan memperbanyak manuskrip atau satu buku yang berbeda penerbitnya, terkecuali ada faedahnya.‬
‪43.
Mengunjungi perpustakaan-perpustakaan untuk menelaah kitab-kitab yang ada.‬
‪44.
Menghindari keumuman istilah ilmiah yang mirip lafazhnya.[2]‬
‪45.
Antusias untuk membaca kitab-kitab yang menjelaskan istilah-istilah penulis atau menjelaskan metode kitab dan bahasan-bahasannya.‬
‪46.
Tidak terburu-buru dalam memahami ucapan, baik yang tertulis atau yang terdengar. Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan dari Ayub as-Sakhtiyani rahimahullahu, “Apabila ia mengulangi soal itu sama seperti awal, maka ia jawab, kalau tidak maka beliau pun tidak menjawabnya.” (I’lam al-Muwaqi’in 2/187)‬
‪47.
Banyak membaca kitab-kitab tentang fatwa-fatwa.‬
‪48.
Tidak terburu-buru untuk menafikan secara umum.‬
‪49.
Apabila anda meriwayatkan hadits secara makna hendaknya anda jelaskan hal itu.‬
‪50.
Hindari penggunaan lafadz-lafadz pengagungan untuk memuji diri sendiri.‬
‪51.
Terimalah kritikan dan nasihat dengan lapang dada bukan karena basa basi.‬
‪52.
Tidak sedih dan patah semangat karena sedikitnya orang yang belajar darinya. Imam adz-Dzahabi menyebutkan biografi Atha’ bin Abi Rabah bahwasanya dia, tidak ada yang duduk bersamanya (dalam menuntut ilmu –pent) kecuali sembilan atau delapan orang saja. (Siyar A’lam an-Nubala` 8/107)‬
‪53.
Tidak menghabiskan waktu untuk membahas perkara-perkara yang tidak bermanfaat, seperti masalah-masalah yang ganjil lagi aneh, seperti warna anjng Ashabul Kahfi, pohon yang Nabi Adam p memakan buah darinya, dan panjang kapal Nabi Nuh p, dll.‬
‪54.
Tidak terpancing untuk keluar jauh dari fokus pembahasan.‬
‪55.
Tidak berlebih-lebihan dalam merangkai kata-kata dan menjelaskan ucapan serta tidak mempergunakan ibarat dan istilah yang asing.‬
‪56.
Tidak berbicara tanpa ilmu, dan tidak merasa kesal jika pertanyaannya tidak dijawab.‬
‪57.
Tidak terpengaruh dengan celaan pribadi apabila agamamu selamat, dan ingatlah ucapan penyair:‬
وَإِنْ بُلِيْتَ بِشَخْصٍ لاَ خَلاَقَ لَهُ فَكُنْ كَأَنَّكَ لَمْ تَسْمَعْ وَلَمْ يَقُلْ
‪Apabila engkau diuji dengan orang yang tidak baik‬
‪Maka bersikaplah seolah-olah engkau tidak mendengarnya dan dia tidak berkata‬
‪58.
Tidak berputus asa.‬
‪59.
Semangat dalam menjalankan shalat malam.‬
‪60.
Tidak banyak bicara, istirahat dan tidur dalam menuntut ilmu.‬
‪61.
Secara khusus thalibul ilmi dan secara umum seorang muslim:‬
‪a.
Memenuhi kebutuhan orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:‬
اِشْفَعُوْا تُؤْجَرُوْا.

Berilah syafaat niscaya kalian dapat pahala. (HR. al-Bukhari)‬
‪b.
Menepati janji. Allah memuji para Nabi dan Rasul sebagaimana firman-Nya etntang Nabi Ismail
Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya. (QS. Maryam: 54)‬
‪c.
Bijaksana, sabar dan lemah lembut. Allah ta’âlâ berfirman:‬

Jadilah engkau pemaaf dan perintahkanlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. al-A’raf: 199)‬
‪As-Sam’ani rahimahullahu menyebutkan dalam kitab
al-Ansab, adz-Dzahabi dalam kitab
Tajrid ash-Shahabah, tentang biografi Auf bin Nu’man, berkata: Di masa jahiliyah dahulu dia lebih senang untuk mati dalam kondisi kehausan dari pada mati dalam kondisi ingkar janji, sebagaimana disebutkan:‬
إِذَا قُلْتَ فِي شَيْءٍ نَعَمْ فَأَتِمَّهُ فَإِنَّ نَعَمْ دَيْنٌ عَلَى الْحُرِّ وَاجِبُ
وَإِلاَّ فَقُلْ لاَ وَاسْتَرِحْ وَأَرِحْ بِهَا لِئَلاَّ يَقُوْلَ النَّاسُ: إِنَّكَ كَاذِبُ
‪Apabila anda telah mengatakan ‘ya’ maka laksanakanlah‬
‪Karena ucapan ‘ya’ adalah hutang yang harus di lunasi‬
‪Kalau tidak mampu katakanlah ‘tidak’ dan istirahatlah‬
‪Supaya orang lain tidak mengatakan anda pendusta‬
‪d.
Tawadhu’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:‬
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.

Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling bertawadhu’, supaya tidak ada yang membanggakan dan menyombongkan diri. (HR. Muslim)‬
‪e.
Gembira, lapang dada, dan mau mendengarkan problema orang lain.‬
‪f.
Mengajak bicara dan memberi nasihat kepada manusia.‬
‪‘Ikrimah rahimahullahu mengatakan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu : “Nasihati manusia satu jum’at sekali, jikalau mau maka dua kali, jika mau maka tiga kali, jangan bikin mereka bosan dengan al-Qur`an dan jangan mendatangi mereka tatkala sedang dalam urusannya dan kau sela pembicaraannya, sehingga mereka merasa jemu, akan tetapi diamlah, jikalau mereka meminta, maka nasihati karena mereka menginginkannya dan hindari olehmu sajak dalam berdoa, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tidak melakukan hal itu. (HR. al-Bukhari, no. 6337)‬
‪g.
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata:‬
حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ.
‪“Ajaklah bicara manusia dengan apa yang mereka ketahui.”‬
‪Disitu ada dalil, seyogyanya sesuatu yang tidak jelas tidak di sampaikan ke khalayak ramai, dan hendaknya berkata sesuai dengan apa yang dipahami orang lain, juga ucapan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, “Jangan kau ajak bicara satu kaum yang tidak dapat dipahami oleh mereka karena tu dapat menimbulkan fitnah.” (HR. Muslim)‬
 ‪
[1] Muttafaq ‘alaih.‬

[2] Seperti
muttafaqun ‘alaih yang populer riwayat al-Bukhari & Muslim tapi
muttafaqun alaih dalam kitab
Muntaqa al-Akhbar karya Majiduddin Ibnu Taimiyah
rah artinya riwayat Ahmad, al-Bukhari dan Muslim

ummu dzakwan , in my sweet home ..

Asah Ilmu


✽ Asah Ilmu 

Kita mengaku mencintai Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Maka selayaknya kita mengetahui Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan keluarga beliau radhiyyallahu ‘anhum.

Tuk saudari dan ummahat, yuks mengenal istri-istri Rasulullah radhiyyallahu ‘anhunna.

Soal:

☑ 01. Sebutkan nama dari istri Nabi dengan kekhususan/petunjuk berikut:

A. Pernah dicerai oleh Rasulullah dan kemudian beliau rujuk kembali atas perintah Allah melalui Jibril ‘alaihis salam….?

B. Sebelumnya bernama Barrah, istri Rasulullah yang pertama kali menyusul beliau meninggal dunia…?

C. Pernikahannya dengan Rasulullah, menjadikan seratus orang tawanan dari Bani al-Mushthaliq dibebaskan..?

D. Satu-satunya istri Nabi yang bukan berasal dari bangsa Arab…?

☑ 02. Sujud Sahwi merupakan perkara yang disyariatkan disaat kita luput saat shalat. Ada yang sebelum dan setelah salam.

Nah dari ketiga kasus berikut, manakah sujud sahwi yang dilakukan sebelum salam dan sesudah salam.

A. Fulanah shalat, namun beliau lupa raka’at shalat yang telah dilaksanakan. Kemudian beliau menambah jumlah raka’at shalat.

B. Fulan terlupa tasyahud awal dan teringat setelah berdiri.

C. Seseorang salam padahal shalatnya belum usai raka’atnya. Maka ia kembali menyempurnakan shalat.

☑ 03. Sehubungan saat ini malam Jum’at, sebutkan cukup 3 sunnah yang dianjurkan dilakukan di Malam dan Hari Jum’at…?

Jawaban langsung kirim balik kepada kami dalam format dibawah ini. Pakai dalil tambah bagus :)(y).

Cepat dan tepat. Yang terbaik akan kami umumkan.

Semoga cukup jelas
—————————————————-
Jawab:

01. (Diisi dengan Nama Istri Beliau radhiyyallahu ‘anha )
A. …..

B. …..

C. …..

D. …..

02. (Diisi dengan kalimat sebelum/sesudah salam)
A. …..

B. …..

C. …..

03. (Diisi dengan nama amalan yang disunnahkan)
A. …..

B. …..

C. …..
 Jawaban Kuis Asah Ilmu @>–

Alhamdulillah ratusan jawaban telah masuk, baik secara rinci maupun singkat. Walau BBM sempat pending cukup lama, namun doa kami,

“Semoga Allah senantiasa menambahkan semangat menuntut Ilmu kepada Ukhti dan Ummahat sekalian..”

Berikut jawaban singkat:

01.
A. Hafshah binti Umar radhiyyallahu ‘anhuma.
B. Zainab binti Jahsy radhiyyallahu ‘anha.
C. Juwairiyyah binti al-Harits radhiyyallahu ‘anha.
D. Shafiyyah binti Huya’i radhiyyallahu ‘anha.

02.
A. Sebelum salam
B. Sebelum salam
C. Setelah salam

03.
A. Membaca surat Al-Kahfi
B. Memperbanyak bershalawat atas Nabi shallallahu’alaihi wasallam.
C. Memperbanyak Berdoa terutama di penghujung siang.
D. Mandi Sebelum Shalat Jum’at dan bersegera ke Masjid (bagi pria) tuk Melaksanakan Shalat Jum’at.
E. Dan beragam sunnah lainnya.

*Adapun mengenai sunnah hubungan suami istri di Malam Jum’at, tiada dalil shahih dan tegas yang mendasarinya.

Nantikan pembahasan rinci tuk setiap jawaban diatas. Dikarenakan keterbatasan karakter postingan 

Semoga Allah memudahkan….

@SahabatIlmu

01.
A. Hafshah binti Umar radiyyallahu anhuma.

Dari Umar radiyyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencerai Hafshah kemudian merujuknya”
(HR. Bukhari)

“Malaikat Jibril ‘alaihissalam berkata kepadaku, “Rujuklah kepada Hafshah, sesungguhnya ia adalah seorang wanita yang banyak berpuasa, melakukan shalat malam, dan ia adalah istrimu di Surga”
(Hasan, HR al-Hakim, Shahihul Jami: 4351)

B. Zainab binti Jahsy radhiyyallahu anha.

“Dahulu namaku adalah Barrah, kemudian Rasulullah mengganti namaku dengan Zainab” (Adabul Mufrad: 121)

Pembahasan mengenai istri Nabi yang pertama kali menyusul beliau meninggal, ada di Fathul Bari: 3/288. Sebab terdapat riwayat yang menyatakan adalah Saudah radhiyyallahu anha. Yang rajih adalah Zainab binti Jahsy radhiyyallahu anha.

C. Juwairiyah binti Al-Harits radhiyyallahu anha.

Juwairiyah pun awalnya bernama Barrah (dalam bacaan lain Burrah). Kemudian Rasulullah mengganti namanya. (HR Muslim: 2140)

Adapun tentang pembebasan tawanan Bani al-Mushthaliq, Aisyah radhiyyallahu ‘anha menuturkan, “Dengan menikahi Juwairiyah, Beliau telah membebaskan 100 tawanan Bani al-Mushthaliq. Aku tidak pernah melihat wanita yang lebih membawa berkah bagi kaumnya selain daripada dia”
(Hasan, HR Ahmad, Abu Daud, Shahih Abu Daud: 431 al-Albani)

D. Shafiyyah binti Huya’i radhiyyallahu anha.

Tatkala Rasulullah masuk ke rumah Shafiyyah, beliau mendapatinya sedang menangis.

Maka beliau bertanya,”mengapa engkau menangis?”
Shafiyyah menjawab, “Hafshah mengatakan bahwa aku adalah putri orang Yahudi”

Kemudian Beliau berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau adalah anak seorang Nabi, pamanmu adalah keturunan Nabi, dan engkau berada dibawah naungan seorang Nabi. Lantas apa alasan Hafshah membangga-banggakan diri atas dirimu?”

Kemudian Beliau berkata kepada Hafshah, “Bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah”

(Shahih Sunan Tirmidzi: 601, al-Albani)

Yuks kita mempelajari sirah ummahatul mukminin tuk kemudian mencontohnya…
-SI-

Jawaban Kuis Asah Ilmu tentang Sujud Sahwi

A. Fulanah shalat, namun beliau lupa raka’at shalat yang telah dilaksanakan. Kemudian beliau menambah jumlah raka’at shalat.

Artinya, Lupa/ragu-ragu jumlah rakaat:

Maka sujud sahwinya SEBELUM salam.

Dasarnya hadits Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
A. Lupa jumlah rakaat : maka sujud sahwinya SEBELUM salam.
Dalilnya :
Hadits Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam.

Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” (HR. Muslim no. 571)

-afwan bila soal 2A ini agak bias 🙂 –

B. Fulan terlupa tasyahud awal dan teringat setelah berdiri.

Artinya, Lupa tasyahud awal:
Maka sujud sahwinya SEBELUM salam

Dari ‘Abdullah bin Buhainah,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur namun tidak melakukan duduk (tasyahud awal). Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali, dan beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk sebelum. Beliau lakukan seperti ini sebelum salam. Maka orang-orang mengikuti sujud bersama beliau sebagai ganti yang terlupa dari duduk (tasyahud awal).” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

…bersambung….

C. Seseorang salam padahal shalatnya belum usai raka’atnya. Maka ia kembali menyempurnakan shalat.

Artinya, Sudah salam namun rakaatnya belum usai:
Maka Sujud Sahwinya SETELAH SALAM.

Dalilnya :
*Hadits Abu Hurairah, ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat pada salah satu dari dua shalat petang, mungkin shalat Zhuhur atau Ashar. Namun pada raka’at kedua, beliau sudah mengucapkan salam. Kemudian beliau pergi ke sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid, lalu beliau bersandar ke pohon tersebut dalam keadaan marah. Di antara jamaah terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berbicara. Orang-orang yang suka cepat-cepat telah keluar sambil berujar, “Shalat telah diqoshor (dipendekkan).” Sekonyong-konyong Dzul Yadain berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah shalat dipendekkan ataukah anda lupa?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menengok ke kanan dan ke kiri, lalu bersabda, “Betulkan apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain tadi?” Jawab mereka, “Betul, wahai Rasulullah. Engkau shalat hanya dua rakaat.” Lalu beliau shalat dua rakaat lagi, lalu memberi salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan Muslim no. 573)

Dan Hadits ‘Imran bin Hushain, tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat ‘Ashar lalu beliau salam pada raka’at ketiga. Diakhir hadits beliau melakukan sujud sahwi setelah salam (HR. Muslim no. 574)

# Intinya, jika shalatnya perlu ditambal karena ada kekurangan, maka hendaklah sujud sahwi dilakukan sebelum salam

# Sedangkan jika shalatnya sudah pas atau berlebih, maka hendaklah sujud sahwi dilakukan sesudah salam dengan tujuan untuk menghinakan setan

Adapun tuk pertanyaan soal sunnah di malam dan hari jum’at, mayoritas benar Alhamdulillah.

*bagi yang merasa jawabannya benar semua, hubungi kami 🙂

@SahabatIlmu

ummu dzakwan , in my sweet home ..

Hati que


@ bandara Soeta … Sambil nunggu bus damri datang, dpt BC ♑άn♌ sgt bagus..
Θȋ baca yuks
Aku pernah berfikir, bahwa setiap manusia pasti ingin memiliki seorang kekasih. Kekasih yang akan terus bersamanya, sehidup semati, dalam suka maupun duka tak akan terpisahkan. Sekarang, aku memilih amal sholeh sebagai kekasihku. Karena ternyata hanya amal sholeh-lah yang akan terus menemaniku, bersamaku, bahkan menemaniku dalam kuburku, kemudian amal sholehku pula lah yang menemaniku menghadap Allah.

Aku pernah berfikir, setiap manusia pastilah punya goresan masalah dengan manusia lain, sehingga wajar jika manusia memiliki musuh masing-masing. Kini aku memilih menjadikan setan sebagai musuh utamaku, sehingga aku lebih memilih melepaskan kebencian, dendam, rasa sakit hati, dan permusuhanku dengan manusia lain.

Aku pernah selalu kagum pada manusia yang cerdas, dan manusia yang berhasil dalam karir, atau kehidupan duniawinya. Sekarang aku mengganti kriteria kekagumanku ketika aku menyadari bahwa manusia hebat dimata Allah, adalah hanya manusia yg bertaqwa. Manusia yg sanggup taat kpd aturan main Allah dlm menjalankan hidup n kehidupannya.

Dulu aku akan marah dan merasa harga diriku dijatuhkan, ketika orang lain berlaku zhalim padaku, menggunjingkan aku, menyakiti aku dengan kalimat kalimat sindiran yg disengaja untuk menyakitiku. Sekarang aku memilih utk bersyukur dan berterima kasih, ketika meyakini bahwa akan ada transfer pahala dr mereka untukku jika aku mampu bersabar… Dan aku memilih tidak lagi harus khawatir, karena harga diri manusia hanyalah akan jatuh dimataNya, ketika dia rela menggadaikan dirinya untuk mengikuti hasutan setan.

Dulu aku yakin, dgn hanya khatam Al Qur’an berkali kali maka jiwaku akan tercerahkan. Kini aku memilih untuk mengerti dan memaknai artinya dengan menggunakan akalku, dengan mengaktifkan qolbuku dan mengamalkannya dalam keseharianku, maka pencerahan itu baru bisa aku dapatkan.

Ketika aku harus memilih…bantu aku Yaa Rabb, utk selalu memilih yg benar dimata Mu…

ummu dzakwan , in my sweet home ..

Indah dalam Kebahagian


9 Jan 2013
@Ƨυяαвαƴα city
​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Membuka buku” lama ana, ♑άn♌ masih tersimpan rapi ϑȋ rumah Ƨυяαвαƴα , banyak kenangan ϑȋ sana, terutama buku” tulisan waktu bersama mendiang beliau, bahkan diary pun masih ada, ku buka dan bermaksud unt menulis ulang semua …
Satu tulisan ♑άn♌ disalin dr buku La Tahzan .. ♑άn♌ memang sengaja ku tulis waktu msh berada ϑȋ ♏α̩̩̩̩τ̩̩α̩̩̩̩я̩̥α̩̩̩̩♏ ..
Kebahagian adlh keringanan hati, karena kebenaran ♑άn♌ dihayati.
Kebahagian adlh kelapangan hati karena prinsip ♑άn♌ menjadi pedoman hidup.
Kebahagian adlh ketenangan hati, karna kebaikan ϑȋ sekelilingnya.
10 Bungan Hidup Bahagia :
1. Bangun disaat menjelang fajar unt beristighfar (QS.Ali Imron:17)
2. Menyendiri unt bertafakkur (QS.Ali Imron:191)
3. Menjalin hub Θëπƍαπ ☺яåήĞ shalih (QS.Al Kahfi:28)
4. Berdzikir (QS. 33:41)
5. Melakukan sholat 2 rakaat Θëπƍαπ khusuk (QS. 23:2)
6. Membaca Al Qur’an Θëπƍαπ tadabbur (QS. 3:82)
7. Berpuasa ϑȋ ♓årî ♑άn♌ panas.
8. Melakukan sedekah scr sembunyi”.
9. Meringankan bebab sesama muslim.
10. Berlaku Zuhud thdp sesuatu ♑άn♌ ssifatnya fana (QS. 87:17)
Entah кєηαρα wkt itu ana tulis ϑȋ buku ana. Padahal ana sendiri punya buku La Tahzan sendiri.
S̈έм̇őğά ini bisa menjadi jalan kita unt bisa bahagia ϑȋ dunia dan akhirat.
S̈έм̇őğά اَللّه سبحانه وتعالى mengampuni dosa” kami.
Aamiin .
​وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

ummu dzakwan , in my sweet home ..

Be A good Muslimah


​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Menunggu beranjaknya subuh …
Muslimah ♑άn♌ baik, adlh muslimah ♑άn♌ lurus aqidahnya, benar ibadahnya, dan luhur akhlaknya. Ia paham bagaimana cara bergaul Θëπƍαπ Tuhannya dan pintar bermuamalah Θëπƍαπ sesamanya. Kasih sayang dan perhatian terhadap keluarganya begitu dlm, dan ibadah kpd Tuhanya penuh ketulusan.
Tidak sekedar cantik dandanannya, kharismatik wibaanya dan anggun penampilannya. Tetapi Ĵчğå kualitas ilmu dan amalnya. Untuk menjadi seorang muslimah ♑άn♌ demikian hebat, tentu butuh tekad ♑άn♌ kuat dan strategi tepat. Ia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tidak seringan memoles sebuah boneka mainan, atau mengukir sebuah patung nisan.
Bersamalah ☺яåήĞ ” mukmin ♑άn♌ akan sesalu memandu kita dalam mencapai cita” luhur nan mulia ♑άn♌ menjadi harapan setiap muslimah.
♑άn♌ pasti, menjadi muslimah idaman spt itu, butuh perjuanagn ♑άn♌ sungguh” dan dukungan semua pihak. Menjadi muslimah ♑άn♌ baik adlh sebuah cita” mulia dan harapan luhur dan sekaligus merupakan keharusan ♑άn♌ tdk boleh diabaikan oleh setiap manusia. Karena Θëπƍαπ cara itulah, generasi umat bisa maju dan kaum muslimin mampu bangkit dr keterpurukan … (Oleh syaikh Sa’ad Yusuf)
S̈έм̇őğά kita tetap istiqomah dijlnnya … Θëπƍαπ tetap ϑȋ jargon ♑άn♌ ∫èƖάƖü ϑȋ ucapkan ϑȋ depan murid” ku “Ngajio” …
°♥ Ṁ̭ȋ̊ڪڪ ƴƠƲ ♥ ◦° my students …

ummu dzakwan , in my sweet home ..

TIGA PERKARA YANG DZOHIRNYA BERTENTANGAN DENGAN HAKEKATNYA.


TIGA PERKARA YANG DZOHIRNYA BERTENTANGAN DENGAN HAKEKATNYA. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍإِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ((Tidaklah sedekah mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambahkankepada seorang hamba yang memaafkan kecuali keperkasaan, dan tidaklahseseorang merendah karena Allah kecuali Allah akan mengangkatnya)) (HRMuslim no 2588)Dzohirnya sedekah itu mengurangi harta, memaafkan itu menunjukan kalahatau lemahnya seseorang, dan merendahkan diri itu menunjukan rendahnyaseseorang…, akan tetapi jika dikerjakan karena Allah dan penuh keimananmaka akan mendatangkan sebaliknya. Justru sedekah menambah hartaseseorang, memaafkan menambah harga dirinya, dan tawadhu’ akan menambahderajatnya…www.firanda.com

ummu dzakwan , in my sweet home ..

ummu dzakwan , in my sweet home ..