KELUARNYA DAJJAL


KELUARNYA DAJJAL [1]
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://www.almanhaj.or.id/content/2470/slash/0
http://www.almanhaj.or.id/category/view/60/page/1

Pemahaman Ahlus Sunnah tentang Dajjal sebagai berikut:

1. Siapakah Dajjal?
Dajjal adalah seorang anak Adam yang mempunyai ciri-ciri yang jelas,
akan dapat dikenali oleh setiap mukmin apabila ia telah keluar, sehingga mereka tidak terkena fitnahnya. Fitnah Dajjal adalah fitnah yang paling
besar di muka bumi.

2. Di Antara Ciri-Ciri Dajjal
Seorang yang masih muda, wajahnya merah, pendek, kakinya bengkok,
rambutnya keriting, mata sebelah kanannya buta (menonjol keluar)
bagaikan buah anggur yang mengapung, di atas mata kirinya ada daging
tumbuh, tertulis di antara kedua matanya: (ك ف ر /كافر (kafir)) dapat
dibaca oleh setiap Mukmin yang bisa baca tulis dan yang tidak bisa baca
tulis. Dajjal adalah seorang yang mandul tidak mempunyai anak.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:.

مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ
الْكَذَّابَ: أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ
بِأَعْوَرَ، مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: ك ف ر يَقْرَؤُهُ كُلُّ
مُسْلِمٍ.

“Tidak ada seorang Nabi pun kecuali telah memperingat-kan ummatnya
tentang Dajjal yang buta sebelah lagi pen-dusta. Ketahuilah bahwa Dajjal
matanya buta sebelah se-dangkan Allah tidak buta sebelah. Tertulis di
antara ke-dua matanya: ك ف ر / كافر (kafir) -yang mampu dibaca oleh
setiap Muslim-.” [2]

3. Tempat Keluarnya Dajjal
Dajjal akan muncul dari arah timur dari Khurasan (sekarang terletak di
Iran timur) dengan diiringi 70.000 orang Yahudi Ashbahan (sebuah kota di
tengah Iran). [3]

4. Tempat Yang Dimasuki Dajjal
Dajjal berjalan di muka bumi dengan cepat seperti hujan yang ditiup
angin, ia masuk ke setiap negeri kecuali Makkah dan Madinah karena
(kedua kota tersebut) dijaga para Malaikat. Ketika ia tidak dapat masuk
Madinah, maka kota Madinah berguncang tiga kali, lalu keluarlah orang
kafir dan munafiq, kaum munafiq laki-laki dan perempuan (keluar) menuju
Dajjal. [4] Dalam riwayat lain, keluarlah orang munafiq laki-laki dan
perempuan, dan fasiq laki-laki dan perempuan menuju Dajjal, itulah
Yaumul Khalash (hari Pembebasan). [5] Di riwayat yang lain, Dajjal tidak
dapat masuk ke empat masjid yaitu:

Masjid al-Haram, Masjid Nabawy, Masjid al-Aqsha, dan Masjid ath-Thuur.
[6]

5. Keberadaan Dajjal Di Muka Bumi
Dajjal berada di muka bumi selama 40 hari. Sehari seperti setahun,
sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan, dan sisa-nya seperti
hari-hari biasa. [7]

6. Fitnah Dajjal
Fitnah Dajjal merupakan fitnah yang paling besar sejak Allah ciptakan
Adam sampai hari Kiamat. [8] Dajjal membawa dua sungai yang mengalir,
salah satunya terlihat air putih, dan yang lainnya terlihat api yang
menyala-nyala, apabila seseorang mendapati hal itu hendaklah ia masuk ke
sungai yang tampak api, pejamkan mata, tundukkan kepala, minumlah! Itu
adalah air yang sejuk. [9] Dajjal mengaku sebagai rabb, menyuruh hujan
untuk turun, lalu turun, menyuruh bumi untuk menumbuhkan tanaman, lalu
tumbuh tanaman, menghidupkan orang mati dan yang lainnya sebagai fitnah
bagi kaum Muslimin. [10]

7. Dibunuhnya Dajjal
Dajjal akan dibunuh oleh Nabi ‘Isa Alaihissalam di Bab Ludd (suatu desa
di dekat Baitul Maqdis, di Palestina).  [11]

8. Penjagaan Diri dari Fitnah Dajjal
a. Berlindung kepada Allah dari fitnahnya, setiap selesai dari tasyahhud
akhir setiap shalat.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

إِذَا فَرَغَ  أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ اْلآخِرِ، فَلْيَتَعَوَّذْ
بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ،
وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيْحِ
الدَّجَّالِ.

“Apabila seseorang di antara kalian telah selesai tasyahhud akhir, maka
berlindunglah kepada Allah dari empat hal: (1) dari adzab Jahannam, (2)
dari adzab kubur, (3) fitnah hidup dan mati, serta (4) dari kejahatan
fitnah al-Masih ad-Dajjal.” [12]

Do’a perlindungan dari fitnah Dajjal yang dibaca setelah tasyahhud akhir
setiap shalat adalah sebagai berikut:

اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ
الْقَبْرِ  وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ
فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab
kubur, dari fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah al-Masih
ad-Dajjal.” [13]

b. Menghafal sepuluh ayat pertama dari surat al-Kahfi.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ، عُصِمَ مِنَ
الدَّجَّالِ.

“Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat pertama dari surat al-Kahfi, dia
terjaga dari fitnah Dajjal.” [14]

Pada riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

…فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُوْرَةِ
الْكَهْفِ فَإِنَّهَا جِوَارُكُمْ مِنْ فِتْنَتِهِ …

“Barangsiapa di antara kalian yang mengetahui fitnah Dajjal, maka
bacalah beberapa ayat pada awal surat al-Kahfi, karena sesungguhnya itu
akan melindungi kalian dari fitnahnya (Dajjal).” [15]

c. Menjauhi tempat fitnah dan tidak mengikutinya.
d. Tinggal di Makkah dan Madinah.

Imam an-Nawawi Rahimahullah  [16] di dalam Syarah Shahiih Muslim
menukilkan perkataan al-Qadhi Iyadh Rahimahullahj: [17] “Hadits-hadits
tentang Dajjal merupakan hujjah Ahlus Sunnah tentang keshahihan adanya
Dajjal. Bahwa ia merupakan sosok tertentu yang dengannya Allah menguji
para hamba-Nya.”

Allah membekalinya dengan kemampuan untuk melakukan banyak hal, seperti
menghidupkan mayat yang telah dibunuhnya. Ia (Dajjal) seolah-olah dapat
menciptakan segala kemewahan dunia, sungai-sungai, Surga dan Neraka,
tunduknya segala kekayaan bumi padanya, memerintahkan langit untuk
menurunkan hujan maka terjadilah hujan, memerintahkan bumi untuk
menumbuhkan tumbuhan, maka tumbuhlah. Semua itu atas kehendak Allah.
Kemudian ia dilemahkan, sehingga tidak mampu untuk membunuh seorang pun
juga dan membatalkan perintahnya. Akhirnya terbunuh di tangan ‘Isa bin
Maryam. Pemahaman ini ditentang dan diingkari oleh Khawarij dan Jahmiyah
serta sebagian dari kaum Mu’tazilah.” [18]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, PO BOX
7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]
_________
Footnotes
[1]. Keterangan lebih lanjut lihat an-Nihaayah fil Fitan wal Malaahim
oleh Ibnu Katsir, Qishshatul Masiih ad-Dajjaal wa Nuzuuli ‘Isa
Alaihissalam wa Qatlihi Iyyaahu oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin
al-Albani dan Asyraathus Saa’ah oleh Dr. Yusuf al-Wabil (hal. 275-335).
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 7131, 7408), Muslim (no. 2933), Abu Dawud (no.
4316, 4318), at-Tirmidzi (no. 2245), Ahmad (III/103, 173, 276, 290),
dari Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu. Lafazh yang ada dalam
kurung milik Muslim dan Ahmad. Lihat Qishshatul Masiihid Dajjaal oleh
Syaikh al-Albani (hal. 53).
[3]. HR. Muslim (no. 2944), Ahmad (no. 13277) tahqiq Syaikh Ahmad
Syakir, hadits ini derajatnya hasan, dari Sahabat Anas bin Malik
Radhiyallahu ‘anhu.
[4]. HR. Al-Bukhari (no. 1881), Muslim (no. 2943), Ahmad (III/191, 206,
238, 292) dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu
[5]. HR. Ahmad (IV/338) dan Hakim (IV/543) dari Sahabat Mihjan bin
al-Adru’ Radhiyallahu ‘anhu
[6]. HR. Ahmad. Imam al-Haitsamy berkata: “Diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
rawi-rawinya shahih.” (Majma’uz Zawaa-id VII/343). Al-Hafizh Ibnu Hajar
ber-kata: “Rawi-rawinya tsiqah.” (Fat-hul Baari XIII/105).
[7]. HR. Muslim no. 2937 (110), Abu Dawud no. 4321.
[8]. HR. Muslim (no. 2946) dari Sahabat ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu
‘anhu.
[9]. HR. Muslim (no. 2934 (105)) dari Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu
a’nahu
[10]. HR. Muslim (no. 2937 (110)).
[11] HR. At-Tirmidzi (no. 2244), Ibnu Hibban (no. 1901-Mawaariduzh
Zham’aan), Ahmad (III/420), dari Sahabat Mujammi’ bin Jariyah al-Anshari
At-Tir-midzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”
[12]. HR. Muslim (no. 588 (130)) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu
‘anhu.
[13]. HR. Muslim (no. 588 (128)) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu
‘anhu
[14]. HR. Muslim (no. 809) dan Ahmad (VI/449) dari Sahabat Abu Darda’
Radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini shahih, lihat Silsilatul Ahaadiits
ash-Shahiihah (no. 582).
[15]. HR. Muslim (no. 2937 (110)), Abu Dawud (no. 4321) dari an-Nawwaas
bin Sam’an al-Kilabi Radhiyallahu . Hadits ini shahih, lihat Shahiih Abi
Dawud (no. 3631).
[16]. Nama lengkapnya adalah Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin
Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam, Abu Zakaria an-Nawawy. Seorang
ahli fiqih dan hadits, lahir tahun 631 H. Di desa Nawa di Suriyah dan
meninggal dunia tahun 676 H. Beliau adalah seorang yang menguasai ilmu
hadits, fiqih, bahasa, seorang yang zuhud dan wara. Penulis dari kitab
Riyaadhus Shaalihiin, Syarah Shahiih Muslim, al-Majmuu’ Syarhul
Muhadzdzab, al-Adzkaar dan yang lainnya.
[17]. Nama lengkapnya al-Qadhi Iyadh bin Musa bin Iyadh bin ‘Umar
al-Yahshabi as-Sabti t, seorang Imam yang faqih di negeri Maghrib, lahir
476 H, menjadi Imam di bidang hadits, nahwu, bahasa dan nasab. Menjadi
Qadhi di negerinya (Sabtah) dalam waktu yang lama, kemudian menjadi
Qadhi di Granada. Beliau meninggal dunia di Maroko tahun 544 H.
[18]. Syarah Shahih Muslim (XVIII/58).

—————————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s