HUKUM MAS YANG MELINGKAR BAGI WANITA


HUKUM EMAS YANG MELINGKAR BAGI WANITA

di sebar ulang oleh ummu dzakwan

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan.
Samahah As Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz ditanya : Sesungguhnya sebagian
wanita di sekitar kami merasa bimbang dan ragu terhadap fatwa Al ‘Alamah
Muhammad Nashiruddin Al Albani, seorang muhadits dari negeri Syam dalam
kitab Adabuz Zifaf, seputar pengharaman pemakaian (perhiasan) melingkar
secara umum. Disana (dijelaskan), para wanita dilarang memakainya dan
menyifatkan wanita-wanita yang memakai (perhiasan) emas melingkar dengan
(sebutan) sesat dan menyesatkan. Maka, bagaimanakah pendapat anda
tentang hukum memakai emas melingkar secara khusus? Hal ini, karena kami
sangat membutuhkan dalil dan fatwa anda, setelah masalah ini menjadi
semakin serius. Semoga Allah mengampunimu dan semoga Allah menambahkanmu
keluasan ilmu pengetahuan.

Jawaban.
Dihalalkan bagi wanita memakai (perhiasan) emas, baik yang melingkar
maupun tidak melingkar, berdasarkan keumuman firman Allah :

“Dan Apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam
keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang
dalam pertengkaran. [Az Zuhruf : 18]

Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan, bahwa hilyah (perhiasan) termasuk
diantara sifat-sifat wanita dan perhiasan tersebut secara umum, baik
perhiasan emas atau lainnya. Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan An Nasa’i dengan sanad yang baik
(Jayyid), dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib radiayallahu ‘anh,
bahwa Nabi Sallallahu ‘Alaihi wassalam, mengambil sutera, kemudian di
letakkan di tangan kanannya dan mengambil emas, kemudian di letakkan di
tangan kirinya, lalu beliau bersabda, ” Sesungguhnya kedua benda ini
(sutera dan emas) diharamkan bagi laki-laki dari umatku.”

Ibnu Majah menambahkan dalam riwayatnya :

“Halal bagi perempuan mereka”

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, An Nasa’i dan At
Tarmidzi, dishahihkan olehnya. Dan dikeluarkan juga oleh Abu Daud dan
Hakim, dan di shahihkan olehnya. Di keluarkan oleh AthThabrani dan
dishahihkan oleh Ibnu Hazm, dari Abu Musa Al Asy’ari radiallahu’anh,
bahwa nabi sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda.

“Emas dan sutera dihalalkan bagi orang-orang perempuan umatku dan
diharamkan bagi laki-lakinya”

Hadits tersebut di nyatakan cacat dengan al inqitha’ (terputus sanadnya)
antara Sa’id bin Abu Hindun dengan Abu Musa (Al Asy’ari). Akan tetapi
tidak ada dalil yang dapat dipercaya tentang kecacatannya itu, dan kami
sudah menyebutkan ulama-ulama yang telah menshahihkannya. Jika pun
diharuskan benarnya kecacatan yang disebutkan tadi (terputus sanadnya),
maka hadits ini naik derajatnya dengan hadits-hadits lainnya yang
shahih, sebagaimana hal tersebut merupakan kaidah yang dikenal di
kalangan imam-imam hadits.

Berdasarkan ini ulama salaf berjalan, dan lebih dari seorang telah
menukil ijma’ (kesepakatan) tentang bolehnya wanita memakai perhiasan
emas. Kami sebutkan perkataan sebagian ulama Salaf sebagai tambahan
penjelas (masalah ini).

Al Jashash berkata dalam tafsirnya, jus II hal.388, berkaitan
pernyataannya tentang emas. “Hadits-hadits yang datang tentang di
bolehkannya emas bagi wanita dari nabi sallallahu ‘alaihi wassalam dan
para sahabat lebih jelas dan lebih masyhur, dibanding dengan hadits yang
melarang. Dan dalam pendalilan (penunjukan) ayat (yang dimaksud dengan
ayat, ialah ayat yang kami sebutkan tadi , surat Az Zuhruf : 18, pent).
Juga jelas tentang bolehnya perhiasan emas bagi wanita. Pemakaian
perhiasan bagi wanita telah tersebar luas sejak zaman nabi Sallallahu
‘alaihi wassalam dan sahabat sampai pada zaman kita ini, tanpa seorang
pun yang mengingkari mereka (wanita-wanita yang memakai emas). Demikian
pula tidak bisa di ingkari (dipertentangkan) dengan khabar-khabar ahad.”

Al Kayaa Al Harasi berkata dalam tafsir Al Qur’an juz IV hal. 391, dalam
menafsirkan firman Allah Subhanahu Wata’ala,

“Dan Apakah patut (menjadi anak Allah) orang (anak perempuan) yang
dibesarkan dalam keadaan berperhiasan ……[Az Zuhruf : 18]

Dalam ayat ini terdapat dalil bolehnya perhiasan bagi wanita dan ijma’
(kesepakatan) terbangun kuat atas bolehnya, serta khabar-khabar
(hadits-hadits) tentang hal ini tidak terhitung (banyaknya)”.

Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra, juz IV hal.142, setelah menyebutkan
sebagian hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya emas dan sutera bagi
kaum wanita tanpa terperinci, berkata : ” Khabar-khabar (hadist-hadits)
ini dan hadits yang semakna dengannya, menunjukkan bolehnya berhias
dengan emas bagi para wanita. Dan kami memperoleh petunjuk (dalil)
dengan didapatkannya ijma’ tentang bolehnya perhiasan emas bagi wanita
dan terhapusnya (hukum) khabat-khabar yang menunjukkan haramnya
perhiasan emas bagi wanita secara khusus”.

An Nawawi berkata dalam Al Majmu’ Juz IV hal.424, “Diperbolehkan bagi
wanita memakai sutra serta berhias dengan perak dan emas dengan ijma’
(kesepakatan) berdasarkan hadits-hadits yang shahih”, Beliau juga
berkata pada juz VI hal.40 (Pada kitab yang sama-pent), “Kaum muslimin
telah bersepakat tentang diperbolehkan bagi wanita memakai beraneka
ragam perhiasan dari perak dan emas semuanya. Seperti: Kalung, cincin,
gelang tangan,, gelang kaki, dan semua perhiasan yang di pakai di leher
dan selainnya, serta semua perhiasan yang biasa di pakai para wanita.
Dalam hal ini, tidak ada perselisihan sedikitpun.”

Imam An Nawawi RahimaHUllah, berkata dalam Syarah Shahih Muslim, Bab :
Diharamkan Cincin Emas Bagi Laki-Laki dan terhapusnya (hukum)
diperbolehkannya pada permulaan islam,” Kaum Muslimin telah bersepakat
bolehnya cincin emas bagi wanita
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam menjelaskan hadist Al Bara’, ” Nabi
Shallallahu ‘alaihi wassalam telah melarang kami dari 7 macam perkara.
Beliau melarang kami dari (memakai) cincin emas (Al Hadits). Beliau
rahimallah berkata pada jux X hal. 317, “Nabi sallallahu ‘alaihi
wassalam melarang dari cincin emas atau memakai cincin emas khusus bagi
laki-laki, tidak bagi wanita. Sungguh telah dinukilkan kesepakatan
(ulama) tentang bolehnya bagi wanita.”

Dihalalkan (perhiasan) bagi wanita secara mutlak, baik yang melingkar
maupun tidak melingkar berdasarkan dua hadits yang telah lalu (di
atas-pent), disertai dengan kesepakatan ahlul ilmi tentang hal itu yang
disebutkan oleh imam-imam tersebut. Juga di tunjukkan oleh hadits-hadits
berikut ini.

[a]. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An Nasa’i, dari ‘Amr
bin Syuaib, dari bapaknya, dari kakeknya. Bahwa seorang wanita
mendatangi Nabi sallallahu ‘alaihi wassalam bersama dengan puterinya.
Dan di tangan puterinya ada dua gelang emas yang tebal. Kemudian Beliau
sallallahu ‘alaihi wassalam berkata kepada wanita tersebut, “Sudahkah
engkau memberikan zakat gelang ini?” wanita tersebut berkata, “tidak”.
Beliau bersabda, “Apakah engkau senang jika Allah memakaikan gelang
padamu dengan keduanya pada hari kiamat dengan dua gelang dari api
neraka?” Kemudian wanita tersebut melepaskan kedua gelang itu dan
menyerahkannya kepada nabi sallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata, “Dua
gelang itu untuk Allah dan Rasul Nya”.

Nabi sallallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan kepada wanita itu tentang
wajibnya mengeluarkan zakat bagi dua gelang yang disebutkan tadi. Dan
beliau tidak mengingkari wanita tersebut karena memakaikan kedua gelang
itu pada puterinya. Itu menunjukkan bolehnya hal tersebut. Padahal kedua
gelang itu melingkar. Hadits tersebut shahih dan sanahnya jayyid (baik),
sebagaimana Al Hafidz (Ibnu Hajar Al Asqalani, pent), memberitakannya
dalam kitab Al Bulugh (Bulugh Al Maram, pent).

[b]. Hadits yang ada dalam Sunan Abu Daud dengan sanad yang shahih, dari
‘Aisyah Radiallahu’anha, berkata : ” Aku mempersembahkan sebuah
perhiasan kepada nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam yang dihadiahkan oleh
seorang An Najasyi (raja Habasyah) kepada beliau. Dalam perhiasan itu
terdapat cincin emas permata hubusy. Aisah berkata : ” Kemudian
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam mengambilnya dengan ranting yang
diulurkan atau dengan sebagian jari-jari Beliau. Kemudian Beliau
memanggil Umamah puteri Abul ‘Ash, yaitu anak dari puteri beliau
(Zaenab), kemudian dia berkata, ” Berhiaslah dengan ini wahai cucuku”.

Beliau sallallahu ‘alaihi wassalam memberikan sebuah cincin berbentuk
sebuah lingkaran dari emas yang kepada Umamah dan berkata, “Berhiaslah
dengan cincin ini….”,

Hal itu menunjukkan dibolehkannya emas melingkar secara nash.

[c]. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ad Daruquthni serta
dishahihkan oleh Al Hakim sebagaimana dalam Bulugh Al Maram, dari Ummu
Salamah Radiallahu’anha, Beliau (Ummu Salamah) memakai gelang kaki dari
emas, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, apakah ini kanzun (harta
simpanan)?” Beliau bersabda, “Apabila engkau menunaikan zakat gelang
kaki emas itu, maka itu tidaklah termasuk harta simpanan.”

Adapun hadits-hadits yang dhahirnya merupakan larangan memakai emas bagi
para wanita, maka hadits-hadits tersebut adalah syadz (ganjil)
menyelisihi hadits lain yang lebih shahih dari hadits-hadits tersebut
dan lebih tsabit. Imam-imam hadits telah menetapkan, bahwa hadits-hadits
yang datang dengan sanad-sanad yang jayyid akan tetapi menyelisihi
hadits-hadits (lain) yang lebih shahih darinya, tidak mungkin
digabungkan (antara keduanya), dan tidak diketahui tarikhnya, maka
hadits-hadits tersebut dianggap syadz, tidak dipercaya dan tidak
diamalkan. Al Hafidz Al ‘Iraqi rahimallah, berkata dalam Al Afiyah :
Hadits syadz adalah rawi tsiqah yang menyelisihi Rawi-rawi tsiqah
lainnya pada sebuah hadits, maka diperiksa oleh Asy Syafi’i. Al Hafidz
Ibnu Hajar berkata dalam An Nukhbah (Nukhbatul Fikr, pent), teksnya
adalah : “Jika seorang rawi diselisihi oleh rawi (lain) yang lebih rajih
(kuat), maka ar rajih dinamakan al mahfudz dan lawannya dinamakan syadz.
Sebagaimana disebutkan oleh imam-imam hadits, bahwa di antara syarat
hadits shahih yang biasa diamalkan, bahwa hadits tersebut bukan hadits
syadz. Dan tidak diragukan lagi bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan
tentang haramnya emas bagi wanita, walaupun sanad-sanadnya selamat dari
cacat-cacat, akan tetapi tidak mungkin digabungkan antara hadits-hadits
tersebut dengan hadits-hadits shahih yang menunjukkan halalnya
(bolehnya) emas bagi wanita dan hadits-hadits tersebut tidak diketahui
sejarahnya. Maka, pastilah hadits-hadits tersebut syadz (ganjil), dan
tidak shahih. Sebagai suatu pengamalan kaidah sya’riyyah yang telah
dikenal di kalangan ahlul ilmi ini.

Hadits yang disebutkan oleh saudara kami fillah, Al ‘Alamah Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam kitabnya Adabuz Zifaaf, berupa
penggabungan antara hadits-hadits yang melarang (mengharamkan) dan
hadits-hadits yang membolehkan (pemakain perhiasan emas bagi wanita)
dengan membawa makna hadits-hadits yang mengharamkan kepada yang al
muhallaq (emas yang melingkar), dan membawa makna hadits-hadits yang
membolehkan pada selain al muhallaq (tidak melingkar), adalah tidak
benar dan tidak sesuai dengan hadits-hadits shahih yang menunjukkan
kebolehannya. Karena dalam hadits-hadits shahih tersebut terdapat
penghalalan (memakai) cincin. Sedangkan cincin melingkar.Penghalalan
gelang, sedangkan gelang melingkar. Dengan demikian, maka apa yang telah
kami sebutkan menjadi jelas. Dan juga karena hadits-hadits yang
menunjukkan halal (bolehnya memakai perhiasan emas bagi wanita) adalah
muthlaq (umum) tanpa pengikat. Maka, wajiblah mengambil dan mengamalkan)
hadits-hadits yang menghalalkan tersebut karena kemuthlaqannya dan
keshahihan sanad-sanadnya. Serta telah dikuatkan oleh apa yang
dihikayatkan oleh sekelompok ahlul ilmi berupa ijma’ (kesepakatan) akan
terhapusnya (hukum) hadits-hadits yang menunjukkan keharaman (emas
melingkar bagi wanita), sebagaimana yang telah kami nukilkan
ucapan-ucapan mereka di atas.

Inilah yang haq tanpa ragu lagi.

Dengan demikian, maka hilanglah syubhat (kesamaran) dan hukum syar’i
menjadi jelas, yang tidak ada keraguan di dalamnya. Yaitu halalnya
(perhiasan) emas bagi wanita-wanita umat ini dan diharamkannya (emas)
bagi laki-laki. Wallahu waliyuttaufiq walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada nabi Muhammad
sallallahu ‘alaihi wassalam, keluarganya dan para sahabatnya Radiallahu
‘anhum.

[Disalin dari majalah As-Sunnah edisi 12/VI/1423H/2003M].

diambil dari www.almanhaj.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s